Jumat, 02 Januari 2009

Jendela Rumah Sakit

Dua orang pria tua sedang berada di rumah sakit, keduanya sedang menderita sakit keras. Kedua orang tua itu bernama Bapak Akbar dan Bapak Lukman. Pak Akbar menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan tempat tidur pak Akbar berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pak Lukman menderita suatu penyakit yang mengharuskannya selalu berbaring lurus di atas punggungnya. Pak Lukman sangat terpukul sekali oleh penyakit yang baru dideritanya, dan ia hampir kehilangan semua semangat hidupnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri, keluarga, rumah, pekerjaan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika Pak Akbar diperbolehkan untuk duduk, ia selalu menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada Pak Lukman. Selama kurang lebih satu jam itulah, pak Lukman merasa begitu senang dan bersemangat membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

Pak Akbar bercerita: “pak Lukman Di luar jendela. Tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa yang sedang berenang-renang, anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan, beberapa pasangan muda berjalan bersama di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwana-warni, dan ada sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas san terlihat kaki langit kota yang mempesona, suatu senja yang indah.”

Pak Lukman yang hanya dapat berbaring membayangkan semua cerita yang dikatakan oleh pak Akbar, sehingga seolah-olah dia memang benar melihat suatu pemandangan yang indah itu.

Setiap hari pak Akbar selalu menceritakan pemandangan di luar jendela, sehingga pak Lukman dapat mendapatkan kembali semangat hidupnya. Dan begitulah seterusnya dari hari ke hari. Dan satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi perawat datang membawa air hangat untuk memandikan pasiennya. Dan ia mendapati ternyata pak Akbar yang berbaring di sebelah jendela telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Pak lukman pun sedih mengetahui ternyata teman yang beberapa hari ini selalu memberi semangat hidupnya telah tiada.

Sehari setelah meninggalnya pak Akbar, pak Lukman kepada perawat agar memindahkan dia ketempat tidur di sebelah jendela yang selama ini ditempatkan oleh pak Akbar. Pak Lukman bermaksud dia ingin melihat pemandangan secara langsung dari luar jendela, kerena di tidak ingin kehilangan semangat hidupnya.

Dan Akhirnya dengan perlahan-lahan pak Lukman memaksakan dirinya untuk duduk agar ia dapat melihat pemandangan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menolehkan kepalanya ke jendela disamping tempat tidurnya. Ia sangat kaget, karena apa yang dilihatnya? Ternyata jendela itu menhadap ke sebuah TEMBOK KOSONG.

> Pak Lukman : Suster! Kenapa aku hanya melihat sebuah tembok kosong yang tinggi di luar jendela?

> Suster : memang itu yang berada diluar jendela pak!

> Pak Lukman : lalu kenapa setiap hari pak Akbar selalu menceritakan pemandangan yang sangat indah padaku?

(Dengan tersenyum kagum suster menjawab)
> Suster : memang pak Akbar orang yang bijaksana! Sesungguhnya pak Akbar itu adalah seorang yang buta bahkan ia tidak dapat melihat tembok sekalipun. Aku merasa ia hanya ingin memberi pak Lukman semangat hidup! Walaupun ia sendiri sudah di vonis oleh dokter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar