Jumat, 02 Januari 2009

Sang Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab hari ini adalah babab final. Hanya tersisa 4 orang finalis sekarang dan mereka menunjukan setiap mobil mainan yang dimilki. Semuanya buatan sendiri, karena memang itulah peraturannya semua mobil harus dibuat sendiri oleh peserta.

Ada seorang anak bernama Fatih, mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Fatih lah yang paling tidak sempurna dan kurang menarik. Itu semua karena disebabkan karena Fatih adalah anak yang paling sederhana. Sehingga semua peserta menyangsikan ketanguhan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnnya.

Dan tibalah saat yang dinantikan, final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka secepat mungkin. Setiap anak jalur lintasan, telah siap 4 mobil dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun sesaat kemudian, Fatih meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit dan mengadahkan kedua tanngannya seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu semenit kemudian ia berkata, “Ya, aku siap!”

Dor!! Pistol kecil dibunyikan, tanda pertandingan telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat mereka semua mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo.. cepat..cepat, maju..maju”, begitu teriak mereka. Dan akhirnya tali lintasan finish pun telah dicapai. Dan Fatih lah pemenangnya. Ya semuannya senang, begitu juga Fatih. Ia berucap dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih, ya Allah”

Saat pembagian piala tiba, Fatih maju kedepan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

> Panitia : “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah agar kamu menang, bukan”

> Fatih : “Tidak Pak, bukan itu yang aku minta dalam doa sebelum lomba tadi. Sepertinya tak adil untuk meminta kepada Allah untuk menolongku mengalahkan orang lain. Itu berarti aku meminta agar teman-temanku kalah dalam pertandingan ini.”

> Panitia : “jika bukan itu yang kamu minta, jadi apa yang kamu minta dalam doa tadi, dapatkah kamu bercerita kepada kita semua”

> Fatih : “aku hanya memohon pada Allah, supaya aku diberi kekuatan dan tidak menangis jika aku kalah dalam pertandingan ini”

Semua penonton di tribun terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, semua penonton berdiri untuk memberi tepuk tangan kepada anak yang bijaksana itu.

Belajar Cinta dari Cicak

Suatu hari ada seorang kakek yang tinggal di negara Jepang sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merobohkan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai roboh, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat yang memiliki perekat lem yang kuat.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia melihat surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berfikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu! Bagaimana dia mendapatkan makanan untuk bertahan hidup?

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu. Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan hidup. Kemudian, entah dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya…. AHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun. Dan selalu membawakan makanan untuk cicak yang terperangkap itu.

Sungguh ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan.

1 Dolar 11 Sen

Saat itu Sally baru berumur 8 tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya yang bernama Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal mungkin dapat menyelamatkan jiwa Georgi… tapi mereka tidak punya biaya untuk operasi itu

Sally mendengar ayahnya berbisik. “Hanya keajaiban yang dapat menyelamatkan anak-ku sekarang.”

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan yang ditabungnya selama setahun ini. Lalu ia mengeluarkan semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat… sebanya 3 kali. Nilainya harus benar-benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally diam-diam keluar dan pergi ke sebuah Apotek terdekat. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian kepadanya. Tapi sang apoteker terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia 8 tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan mengayunkan kakinya, tapi gagal.

Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase, dan berhasil! Sang apoteker menoleh ke arahnya, dan bertanya.

(dengan suara marah apoteker bertanya)
> Apoteker : Apa yang kamu perlukan nak? Aku sedang sibuk mengurusi semua pelanggan.

> Sally : Aku ingin berbicara kepadamu mengenai keadaan adik-ku. Dia sekarang sedang sakit dan saya ingin membeli sebuah keajaiban.

> Apoteker : Apa yang kamu katakan?

> Sally : Ayahku mengatakan hanya keajaiban yang dapat menyelamatkan jiwa adikku sekarang. Jadi berapa harga keajaiban itu ?

(sambil tersenyum apoteker itu menjawab)
> Apoteker : Disni kami tidka menjual keajaiban adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.

(dengan raut wajah yang serius Sally berkata)
> Sally : Dengar, aku mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya?

Di sela-sela perbincangan antara Sally dan Apoteker, ternyata ada seorang pria berpakaian rapih mendengar perbincangan sally dan ia bertanya
> Pria Itu : Maaf nak aku menyela pembicaraan kalian, jika saya boleh tau keajaiban apa yang dibutuhkan oleh adikmu?

(Air mata mulai menetes di pipi Sally)
> Sally : Aku tidak tahu, yang aku tahu di sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua-ku tidak mampu membayarnya. Tapi aku juga mempunyai uang.

> Pria Itu : Berapa uang yang kamu punya, nak?

(dengan Bangga dan yakin sally menjawab)
> Sally : 1 Dolar 11 sen, pak! Dan itulah seluruh uang yang sekarang aku miliki di dunia ini. (sebenarnya biaya operasi saat itu mungkin mencapai ribuan dollar)

(sambil tersenyum pria itu berkata)
> Pria itu : Wah kebetulan sekali, 1 dolar 11 sen, harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu. Bawalah saya kepada adikmu dan kedua orang tua-mu.

Ternyata Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal. Dan akhirnya operasi itu dilakukannya tanpa biaya dan tidak lama kemudian setelah operasi itu Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. “Operasi itu” bisik ibunya “adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan harganya.”

Sally tersenyum, dia tau pasti berapa harga keajaiban tersebut
1 Dollar 11 Sen + “Keyakinan” = “Keajaiban”

Kehangatan

Seorang kakek sedang berjalan-jalan sambil menggandeng cucunya di jalan pinggiran pedesaan. Mereka menemukan seekor kura-kura. Anak itu mengambilnya dan mengamati kura-kura itu dengan penasaran. Kemudian kura-kura itu segera menarik kakinya dan kepalanya masuk dibawah tempurungnya. Si anak mencoba membukanya secara paksa.

Sang kakek berkata kepada cucunya, “Cara seperti itu tidak pernah akan berhasil, nak! Mari kakek akan memberitahu caranya.”

Mereka berdua pulang. Dan sang kakek meletakan kura-kura di ruangan yang hangat didekat perapian. Beberapa menit kemudian, kura-kura itu mengeluarkan kakinya dan kepalanya perlahan-lahan. Dan kura-kura itu merangkat bergerak mendekati si anak.

Sambil tersenyum sang kakek memberi nasehat, “Janganlah mencoba memaksa melakukan segala sesuatu, nak! Berilah kehangatan dan keramahan kepada yang kau inginkan, maka ia akan menanggapinya.”

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggalah berbagai benda-benda abstrak yang terdiri dari perasaan manusia. Ada “Cinta”, “Kesedihan”, “Kekayaan”, “Kegembiraan” dan sebagainya. Mereka hidup secara berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. “Cinta” sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak punya perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki “Cinta”.

Tak lama “Cinta” melihat “Kekayaan” sedang mengayuh perahu.
> Cinta : Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!

> Kekayaan : “Aduh! Maaf “Cinta ”, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahuku ini akan tenggelam karena kelebihan beban, dan juga tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.

Lalu “Kekayaan” cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. “Cinta” sedih sekali, namun kemudian dilihatnya “Kegembiraan” lewat dengan perahunya. “Cinta” berteriak “Kegembiraan! Tolong aku”. Namun “Kegembiraan” terlalu senang karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan “Cinta”.

Air makin tinggi membasahi “Cinta” sampai ke pinggang dan “Cinta” semakin panik. Tak lama lewatlah “Kecantikan”. Cinta berteriak:
> Cinta : “Kecantikan”! Bawalah aku bersamamu!.

> Kecantikan : Wah, “Cinta” kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.


“Cinta” sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis tersedu-sedu. Saat yang bersamaan datanglah “Kesedihan”.
> Cinta : Oh “Kesedihan”! Bawalah aku bersamamu!

> Kesedihan : Maaf, “Cinta” aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…


Kesedihan terus mengayuh perahunya. “Cinta” putus asa, ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta!” Mari cepat naik ke perahuku!. “Cinta” menoleh kearah suara itu dan melihat orang tua dengan perahunya. Dengan segera “Cinta” naik perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan “Cinta” dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah “Cinta” sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. “Cinta” segera menanyakanya kepada seorang penduduk di pulau itu.

> Cinta : Bolehkah aku menanyakan seseuatu, apakah kamu kenal dengan orang tua yang tadi menyelamatkan aku dengan perahunya?

> Penduduk pulau: Ooh, orang tua yang tadi. Dia adalah Waktu.

> Cinta : Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku bahkan tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku seperti ”Kekayaan, Kegembiraan, Kecantikan, dan Kesedihan,” enggan menolongku.

> Penduduk Pulau : aku tak heran kenapa hanya dia yang menolongmu. Karena “Hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya arti Cinta itu…”

Mawar untuk Ibu

Ada Seorang Pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang Ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya, ia mengirimkan bunga itu karena sudah setahun lamanya ia tak berjumpa dengan ibunya, ia sangat rindu sekali. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu bertanya kepada gadis kecil :

> Pria : “Adik manis, kenapa kamu menangis tersedu-sedu disini, apa yang kamu sedihkan? Mungkin bapak bisa membantu kamu. ”

> Gadis kecil : “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya Cuma punya uang Rp.500 saja, kata pemilik toko bunga ini harga bunga mawar Rp.20.000,” tentu saja uangku tak cukup untuk membeli bunga itu untuk ibu.”

Sambil tersenyum pria itu berkata:

> Pria : “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kamu mau.”

> Gadis kecil : “terima kasih Pak, aku senang sekali, akhirnya aku dapat memberikan setangkai bunga untuk ibu.”

> Pria : “kamu adalah anak yang baik, aku juga akan membelikan bunga untuk ibuku, tapi aku akan memaketkan dan mengirimnya, karena rumah ibuku sangat jauh dari kota ini. Adik kecil, maukah bapak antar kerumahmu? Bapak juga ingin bertemu dengan ibumu”

Gadis kecil itu melonjak gembira.

> Gadis kecil : “Ya tentu saja, aku mau diantar oleh bapak?”


> Pria : “dimana rumah kamu Nak?”

> Gadis kecil : “belok kiri, lalu kita sudah sampai pak? ”

> Pria : “ok, disini tempatnya?”

> Gadis kecil : “iya mari kita turun, sudah sampai pak!”

Dan ternyata tempat yang dimaksud gadis itu adalah pemakaman umum, karena gadis kecil itu baru saja kehilangan seorang ibunya yang meninggal dunia. Lalu ia meletakan bunga mawar itu diatas kuburan ibunya yang masih basah.
Melihat hal ini, hati Pria itu menjadi trenyuh dan berkata pada gadis kecil itu sambil mencium keningnya “terima kasih nak, kamu telah menyadarkanku betapa berharganya seorang ibu bagi anaknya, kamu adalah anak yang baik!”
Kemudian pria itu bergegas kembali menuju toko bunga tadi dan membatalkan pengirimannya. Kemudian ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan menendarai sendiri kendaraaannya sejauh 250 km untuk menuju rumah ibunya lalu memberikan karangan bunga itu dengan tangannya sendiri.

Ikan Kecil dan Air

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Dimakah air?”

Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”

Apa arti cerita tersebut bagi kita. Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya.

Malaikat Pelindung

Suatu ketika, ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka, ia bertanya kepada Tuhan.
> Bayi : “Ya Allah, Engkau akan mengirimku ke Bumi. Tapi, aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?”

> Tuhan : “Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seorang yang khusus untukmu. Dia akan merawatmu dan mengasihimu.”

> Bayi : “Tapi, disini, di surga ini, aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu cukup membuatku bahagia.”

> Tuhan : “Tak apa, malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu, dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih saying, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.”

> Bayi : “Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?”

> Tuhan : “Malaikatmu itu, akan mebisikan kata-kata yang paling indah, dia akan selalu sabar ada disampingmu, dan dengan kasihnya, dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia.”

> Bayi : “Lalu, bagaimana jika aku ingin berbicara padamu, ya Allah? ”

> Tuhan : “Malaikatmu itu, akan membibingmu. Dia akan menengadahkan tangannya bersamamu, dan mengajarkanmu untuk berdoa.”

> Bayi : “Namun, aku mendengar, disana ada banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?”

> Tuhan : “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu, walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepetingannya sendiri untuk keselamatanmu.”

> Bayi : “Ya Allah, tentu aku akan sedih jika tak melihat-Mu lagi.”

> Tuhan : “Malaikatmu akan selalu mengajarkanmu keagungan-Ku dan dia akan mendidikmu, bagaimana agar selalu patuh dan taat pada-Ku. Walau demikian, Aku akan selalu ada disisimu.”

> Bayi : “Ya Allah, aku akan pergi sekarang ke Bumi, tolong sebutkan nama malaikat-Mu yang akan melindungiku…”

> Tuhan : “Nama malaikatmu tak begitu penting. Tapi kamu akan menanggilnya dengan sebutan IBU…”

Gratis Sepanjang Masa

Suatu sore seorang anak bernama Fatih menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisnya untuk sang ibu. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek ia pun langsung membaca tulisan itu dan inilah isinya:

Tagihan untuk Ibu
> Untuk memotong rumput rumah = Rp 2.000 ,-
> Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini = Rp 1.000 ,-
> Untuk pergi ke warung disuruh ibu = Rp 500 ,-
> Untuk menjaga adik waktu ibu belanja = Rp 500 ,-
> Untuk membuah sampah = Rp 1.000 ,-
> Untuk nilai ujan-ku yang bagus = Rp 3.000 ,-
> Untuk membersihkan dan meyapu halaman = Rp 500 ,-
> Jadi total jumlah utang ibu adalah = Rp 8.500 ,-

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikan kertasnya. Dan inilah yang sang ibu tuliskan untuk anaknya :

Tagihan untuk Fatih
> Untuk 9 bulan ibu mengandung kamu = Gratis
> Untuk semua malam ibu menemani kamu = = Gratis
> Untuk doa ibu setiap hari untukmu = Gratis
> Untuk perawatan-mu jika kamu sedang sakit = Gratis
> Untuk semua saat susah dan air mata dalam membesarkanmu = Gratis
> Untuk semua mainan, makanan, dan baju = Gratis
> Anakku dan kalau kamu menjumlahkan semuanya akan kamu dapat bahwa harga cinta ibu = Gratis

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, fatih berlinang air mata dan menatap wajah ibunya. Dan berkata : “Bu, aku sayang sekali sama ibu.” Kemudian ia mengambil pulpennya kembali. Dan menulis sebuat kata dengan huruf-huruf besar “LUNAS”.

Cinderella Story

Jika mengeja dengan benar suatu kata tidak dianggap sesuatu yang penting, maka pikirkanlah kisah “Cinderella”. Oleh karena seorang pengeja membuat satu kesalahan kecil, Cinderella akhirnya memakai sepatu yang salah untuk selama-lamanya.

Pada tahun 1697, seorang berkebangsaan Perancis bernama Charles Perrault menyalin kisah Cinderella ke dalam bahasa perancis. Dalam kisah Cinderella sebenarnya, sepatu yang dipakai Cinderella sebenarnya terbuat dari bulu tupai berwarna putih dan abu-abu. Bahasa Perancis untuk kata bulu adalah “vair”. Dan Charles salah menyalin, bahwa sepatu Cinderella terbuat dari “verre”, yang bunyinya sama dengan “vair” namun berbeda artinya yaitu “verre” berarti “kaca”.

Sejak itulah anak-anak sedunia membayangkan ada sebuah sepatu kaca yang berkilauan yang tertinggal di atas tangga istana, dan mereka terheran-heran mengapa mereka tidak pernah melihat sepatu seperti itu dalam kenyataannya.

Jendela Rumah Sakit

Dua orang pria tua sedang berada di rumah sakit, keduanya sedang menderita sakit keras. Kedua orang tua itu bernama Bapak Akbar dan Bapak Lukman. Pak Akbar menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan tempat tidur pak Akbar berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pak Lukman menderita suatu penyakit yang mengharuskannya selalu berbaring lurus di atas punggungnya. Pak Lukman sangat terpukul sekali oleh penyakit yang baru dideritanya, dan ia hampir kehilangan semua semangat hidupnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri, keluarga, rumah, pekerjaan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika Pak Akbar diperbolehkan untuk duduk, ia selalu menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada Pak Lukman. Selama kurang lebih satu jam itulah, pak Lukman merasa begitu senang dan bersemangat membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

Pak Akbar bercerita: “pak Lukman Di luar jendela. Tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa yang sedang berenang-renang, anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan, beberapa pasangan muda berjalan bersama di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwana-warni, dan ada sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas san terlihat kaki langit kota yang mempesona, suatu senja yang indah.”

Pak Lukman yang hanya dapat berbaring membayangkan semua cerita yang dikatakan oleh pak Akbar, sehingga seolah-olah dia memang benar melihat suatu pemandangan yang indah itu.

Setiap hari pak Akbar selalu menceritakan pemandangan di luar jendela, sehingga pak Lukman dapat mendapatkan kembali semangat hidupnya. Dan begitulah seterusnya dari hari ke hari. Dan satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi perawat datang membawa air hangat untuk memandikan pasiennya. Dan ia mendapati ternyata pak Akbar yang berbaring di sebelah jendela telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Pak lukman pun sedih mengetahui ternyata teman yang beberapa hari ini selalu memberi semangat hidupnya telah tiada.

Sehari setelah meninggalnya pak Akbar, pak Lukman kepada perawat agar memindahkan dia ketempat tidur di sebelah jendela yang selama ini ditempatkan oleh pak Akbar. Pak Lukman bermaksud dia ingin melihat pemandangan secara langsung dari luar jendela, kerena di tidak ingin kehilangan semangat hidupnya.

Dan Akhirnya dengan perlahan-lahan pak Lukman memaksakan dirinya untuk duduk agar ia dapat melihat pemandangan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menolehkan kepalanya ke jendela disamping tempat tidurnya. Ia sangat kaget, karena apa yang dilihatnya? Ternyata jendela itu menhadap ke sebuah TEMBOK KOSONG.

> Pak Lukman : Suster! Kenapa aku hanya melihat sebuah tembok kosong yang tinggi di luar jendela?

> Suster : memang itu yang berada diluar jendela pak!

> Pak Lukman : lalu kenapa setiap hari pak Akbar selalu menceritakan pemandangan yang sangat indah padaku?

(Dengan tersenyum kagum suster menjawab)
> Suster : memang pak Akbar orang yang bijaksana! Sesungguhnya pak Akbar itu adalah seorang yang buta bahkan ia tidak dapat melihat tembok sekalipun. Aku merasa ia hanya ingin memberi pak Lukman semangat hidup! Walaupun ia sendiri sudah di vonis oleh dokter.

Paku

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 buah paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu mulai berkurang. Dia sadar ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa ia sudah dapat mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari demi hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar dan sang Ayah berkata; ”hmm.. kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa kembali seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini… di hati orang lain.

Kamu dapat menusukan pisau pada seseorang. Lalu mencabut pisau itu.. tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah sama sakitnya dengan luka fisik..”

Bersyukurlah

Jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini, jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku?

Philip M.Hartner, MD dari Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini.

Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari:
57 orang Asia
21 orang Eropa
14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
8 orang afrika

52 perempuan
48 laki-laki

80 bukan kulit putih
20 kulit putih

6 orang memilki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.

80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak memenuhi standart

70 orang tidak dapat membaca
50 orang kekurangan gizi
1 orang kritis / hampir meninggal
1 orang sedang hamil
1 orang memiliki latar belakang lulusan perguruan tinggi
1 orang memiliki komputer

Marilah kita renungkan hasil analisa ini dan mulai dari hal-hal sebagai berikut:

> Jika kamu tinggal di rumah yang baik, memilki banyak makanan dan dapat membaca, maka kamu adalah bagian dari kelompok terpilih.

> Jika kamu punya rumah yang baik, makanan, dapat membaca dan memiliki komputer, maka kamu termasuk dari kelompok elit.

> Jika kamu bangun pagi ini dan merasa sehat, maka kamu lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.

> Jika kamu memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat kamu beristirahat, anda lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.

> Jika kamu memiliki uang simpanan di bank, atau di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, maka kamu merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.

> Jika orang tua kamu masih hidup dan menikmati bahagianya kehidupan rumah tangga mereka, maka kamu termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka, terutama di Amerika Serikat.

> Jika kamu mampu menegakkan kepala dengan senyuman dibibir dan merasa benar-benar bahagia, maka kamu memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak memperoleh kenikmatan tersebut.

> Jika kamu dapat membaca comment ini, maka kamu baru saja menerima karunia ganda, karena seseorang memikirkan kamu, dan kamu jauh lebih beruntung dibandingkan dengan lebih dari 2 milyar orang yang tidak dapat membaca sama sekali.

Tujuh Keajaiban Dunia

Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari “Tujuh Keajaiban Dunia” pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak-sesuaian, sebagian besar daftar berisi:

1.Piramida
2.Taj Mahal
3.Tembok Besar Cina
4.Menara Pisa
5.Kuil Angkor
6.Menara Eifel
7.Kuil Parthenon

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar yaitu seorang gadis yang pendiam, ia belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi sang guru bertanya :

> Guru : apa kamu kesulitan nak dalam menjawaba soal tadi?
> Siswi : Iya, sedikit! Saya tidak dapat memilih karena sangat banyak keajaiban di dunia ini.
> Guru : Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.
> Siswi : Aku pikir “Tujuh Keajaiban Dunia” adalah:
1.Dapat Melihat
2.Dapat Mendengar
3.Dapat Menyentuh
4.Dapat Menyayangi
(Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkanya)
5.Dapat Merasakan
6.Dapat Tertawa
7.Dan Dapat Mecintai

Bagian Penting Tubuhmu

Ibuku selalu bertanya kepadaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, “Telinga, Bu” tapi ternyata itu bukan jawabannya. Ibu berkata “Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi teruslah memikirkanya dan aku akan menanyakannya lagi”

Setiap tahun aku selalu mencoba menjawabnya:
> Aku : Ibu sekarang jawaban-ku pasti benar, bagian tubuh paling penting adalah Mata, karena penglihatan sangat penting bagi semua orang.

> Ibu : Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta di dunia ini.

Setiap tahun aku mencari jawabannya, dan ibu selalu menjawab “bukan itu nak jawabanya, tapi kamu makin pandai dari tahun ke tahun.”

Akhirnya tahun lalu nenek-ku meninggal. Semua keluarga sedih, semua menangis. Bahkan ayahku-pun ikut menangis. Dan yang paling sedih adalah ibuku, karena ia begitu dekat dengan nenek. Aku mendekati ibu, dan aku makin sedih melihat mata ibu yang penuh dengan air mata. Dan akhirya aku menyandarkan kepala ibuku di bahu-ku agar ia dapat mengeluarkan semua kesedihannya.

Dan ibuku tiba-tiba bertanya kepadaku “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?” aku terkejut ketika ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berfikir, ini hanya-lah permainan antara ibu dan aku.

Ibu memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata:

> Ibu : sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu.

> Aku : Kenapa bahu, apa fungsinya yang begitu penting bagi manusia?

> Ibu : Karena bahu dapat menahan kepala seseorang yang kamu sayangi ketika mereka mengangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang memerlukan bahu untuk mengangis. Aku cuma berharap kamu punya cukup kasih sayang agar orang yang kamu sayangi dapat menangis dibahumu.

Akhirnya aku mengerti bagian tubuh yang paling penting bukan bagian yang berguna untuk diri sendiri, tapi bagian tubuh yang paling penting adalah bagian tubuh yang dapat berguna untuk orang yang kamu sayangi jika ia sedang merasakan kesedihan.